Mengajar?? Mengapa tidak!!!

wei yo. setelah sekian lama saya tidak posting, kali ini saya akan menulis sekilas. pupung anginnya lagi bagus. sebenarnya banyak si tulisan di draft, diposting? saya kira belum siap. beberapa malah mandeg di tengah jalan gitu aja. Inilah resiko hidup di kejauhan, inspirasi kadang mendadak hilang tak kunjung kembali. aww. udah intronya. masuk materi ho!!

Hari ini 21 April 2016, mendekati jam pulang kantor, tampak di Timeline Facebook saya suasana Kartini(an) yang mengingatkan saya akan suatu hal. ke-arifan lokal? sudah barang tentu. equalitas? saya rasa bukan kapasitas saya membicarakan persamaan hak antar pria dan wanita. Justru momen Upacara hari Kartini yang mengundang jari saya menari di atas papan ketik. Ya, 21 April diperingati sebagai hari Kartini, pahlawan Indonesia yang banyak memperjuangkan persamaan hak wanita. Ibu Kita kartini !! ya kita semua mengingat lagu tersebut dong ya.

Banyak Instansi, terkhusus Pemda yang memperingati hari Kartini dengan mengadakan upacara. Eits, upacaranya spesial genk. Peserta Upacara memakai pakaian daerah, tak terkecuali petugasnya. Istimewa sekali bukan. ya rangkaian upacaranya mungkin bakal biasa banget. tapi dokumentasi gambarnya sangat mencuri perhatian mata banget ya. Sekolah mulai dari tingkat Dasar sampai menengah pertama dan akhir juga ikut menyemarakkanya. SMP saya dulu juga masih hiruk kok mengadakan upacara ini.

Berangkat dari saya melihat suasana yang sangat saya rindukan di SMP, lapangan di depan sekolah yang mulai ditumbuhi rumput, barisan siswa dengan beragam busananya, yang mencuri banget ni, deretan guru yang beberapa masih sangat melekat di ingatan saya. Sebutlah Ibu Guru Matematika saya di kelas 7&8, beliau masih …. ya seperti yang dulu, idola banget! “wow, akan sangat menyenangkan sekali bisa menjadi bagian dari mencerdaskan generasi muda” itu sih yang kembali ada di ingatan kita.

Mengapa mengajar? “My God, this reminds me of when we were young” kata adele si gitu. Sampai saat ini masih hangat di pikiran saya, bagaimana cara Guru-guru saya mengajar. Setiap hari saya mendoakan Guru-guru saya untuk diampunkan dosanya. Karena memang amatlah besar Jasa beliau. Tidak hanya tulisan-tulisan di buku ajar saya yang mereka sampaikan, bukan cuma rumus dan persamaan algoritma, lebih dari sekedar rumus kimia tanpa ujung, Guru-guru kami mencurahkan perhatian dengan segenap hati yang ikhlas serta pedoman untuk menghadapi tantangan hidup.

Tidaklah berlebihan bila saya mengatakan demikian karena memang itu yang saya rasakan. Mungkin memang benar bila tidak semua guru berlaku demikian, tapi saya sangat yakin dan percaya, mo kek mana juga dalam lubuk hati terdalam guru, selalu menginginkan anak didiknya sukses dalam belajar. Proses pembelajaran dari tidak bisa menjadi bisa barang tentu itu adalah tujuan besar yang harus setiap guru capai, lebih dari itu Guru juga membimbing kami dalam akhlak dan Norma. Ya mungkin bisa di terapkan ilmu dari buku itu, tapi tanpa moral yang baik yang tertanam dalam diri kita melalui bimbingan guru, entah jadi apa. Di rasa atau tidak, itu jasa guru mu Bro kalau kau sekarang mempunyai moral yang baik

Sedikit contoh saja untuk hal itu. coba kita pikir sedikit, Pencuri. Mana yang lebih membahayakan Umat antara Pencuri yang pintar dan Pencuri yang bodoh. lupakan Pencuri. Kita langsung Spike Para Koruptor entah dimana saja tempat dia. Lebih bahaya mana Koruptor yang cetek ilmunya atau koruptor yang cerdas luar biasa? Disitulah diperlukanya moral dan karakter yang baik. sudah tanggung jawab guru untuk mendidik mulai dari kita usia dini. dengan pengenalan dan metode yang baik, ilmu yang di iringi dengan keprcayaan serta tabiat yang baik nantinya Bisa menjadi hal yang berguna. bukan malah menjadi kosong atau bahkan menjadi beban.

Saya ingin mengajar! dari dulu sampai sekarang keinginan itu masih sangat tinggi. Dengan pekerjaan saya saat ini yang tidak lagi memungkinkan untuk saya bisa mengajar di tempat Formal, tak pernah menyulutkan kobaran semangat mengajar saya. Saya selalu gembira mengiringi seseorang merangkak dari bawah. saya sangat senang membagi ilmu saya. tidak akan habis bro ilmu itu kalau di ajarkan. bahkan Insyallah akan menjadi Ilmu yang bermanfaat. yang tidak pernah terputus amalannya bahkan sampai suatu saat ajal datang menjemput kita.

Tidak formal berarti tidak mengajar? Oh tentu tidak sobat. ilmu tidak terbatas pada tulisan yang tercetak di buku saja. Atau hanya dalam pelajaran formal sesuai kurikulum terbaru. Tidak. Seperti rejeki, ilmu bisa datang dari mana saja. bila memang ada yang bertanya “Mengajar yang lebih tua itu apa baik?” tidak ada yang salah tentang itu. kita berguru itu tak memandang dari siapa dan dalam situasi apa saja kan. Tidak bisa formalnya? kita bisa mengajar dari pengalaman hidup kita, tentang kemenangan kita, tentang lagu yang kita bisa, tentang halangan dan badai yang melanda. Kita bisa menuturkannya, dan bila ilmu kita di terapkan, bermanfaatlah ilmu kita.

Masih merasa minim pengalaman dan gak banyak omong? Tunjukkan itu dengan ketrampilan yang kita bisa. Bagilah apa yang kita ketahui, mulai dari cara memasak, susunan menu masakan yang kita buat, cara menjaga bentuk dan berat badan, cara menghadapi kaki yang bau? Oh itu sudah terlalu jauh. hehe. yang saya ingin utarakan adalah mengajar itu lebih dari berbagi. karena ilmu itu tidak bernilai.

 

emm Outronya boleh dilanjut nanti kan. pada dasarnya tulisan ini juga flash aja. belum ada edit dan sebagainya. grafiknya pun entah kemana mana. 30 menit jadilah, saingan sama jangan menyerahnya demasiv. hahahaha Well, mari mengajar, mari berbagi 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s